Kementerian Perdagangan meminta pengusaha dan peternak ayam serta telur menyalurkan stok atau persediaan ke pasar. Langkah itu dilakukan untuk menstabilkan harga telur dan ayam yang hingga saat ini harganya masih cukup tinggi di pasar.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Tjahya Widayanti mengatakan, sejak awal pekan ini Kemendag telah dua kali menggelar pertemuan dengan pengusaha, peternak dan pedagang di sektor perunggasan. Pertemuan itu dimaksudkan untuk mendengarkan beberapa persoalan yang tengah dihadapi pengusaha dan peternak ayam sehingga kedua komoditas tersebut terus melonjak sejak beberapa pekan terakhir.

“Rapat kembali digelar hari ini. Kami minta mereka untuk menyalurkan stok ke pasar,” kata Tjahya di Jakarta.

Hasil pantauan Kementerian Perdagangan di 34 provinsi, harga ayam dan telur masih relatif tinggi saat ini. Data Informasi Harga Pangan Strategis (IHPS) Nasional juga menunjukan, harga rata-rata telur ayam naik dari Rp 23.500 per kilogram pada 18 April 2018 menjadi Rp 25.850 per kilogram pada 17 Mei 2018. Sedangkan untuk harga daging ayam pada periode yang sama juga mengalami peningkatan dari Rp 33.650 per ekor menjadi Rp 37.000 per ekor.

Tjahya menjelaskan salah satu penyebabnya melonjaknya harga ayam dan telur karena meningkatnya harga pakan. Naiknya harga pakan dipengaruhi faktor pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, karena mayoritas bahan baku pakan berasal dari impor.

Karenanya dia meminta pengusaha bisa menyuplai lebih banyak pasokan ayam dan telur. Tak hanya itu, pihaknya juga akan mulai menggelar operasi pasar, yang akan menjual ayam dan telur dengan harga acuan yang sesuai Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 58 Tahun 2017 tentang Penetapan Harga, yang mana ayam akan dijual sekitar Rp 32.000 per ekor dan telur Rp 22.000 per ekor.

Tjahya pun menjelaskan, Kemendag akan terus memonitor harga pangan, tak hanya terbatas pada komoditas dan telur saja.“Kami terus monitor harga di 34 provinsi dan kami ing memastikan harga pangan lain stabil,” ujarnya.

Sebelumnya, Kementerian Pertanian telah menyebut ketersedian pasokan ayam dan telur untuk kebutuhan masyarakat menjelang Ramadan dan Lebaran diprediksi aman dan mencukupi permintaan.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian I Ketut Diarmita menjelaskan pihaknya telah mengkalkulasi stok ayam dan telur dan kebutuhan masyarakat. “Kami ingin memastikan masyarakat yang berpuasa merasa aman dan Lebaran nyaman,” kata Ketut, beberapa waktu lalu.

Berdasarkan prognosa Kementan, produksi daging ayam tahun ini diperkirakan mencapai 3,56 juta ton dengan total kebutuhan sebesar 3,04 juta ton. Sehingga diperkirakan masih ada surplus sekitar 517 ribu ton. Untuk Mei-Juni 2018, ketersediaan daging ayam sebanyak 626 ribu ton dengan konsumsi sebanyak 535 ribu ton, sehingga terjadi kelebihan 90,9 ribu ton.

Sementara itu, produksi telur ayam tahun ini diprediksi sebanyak 2,96 juta ton dengan kebutuhan 2,76 juta ton. Sehingga stok nasional surplus 202 ribu ton. Adapun sepanjang Mei-Juni, produksi telur diperkirakan sebanyak 521 ribu ton dengan jumlah kebutuhan 485 ribu ton. Alhasil masih ada kelebihan stok 35,5 ribu ton.

Melihat fenomena kenaikan harga telur dan ayam, Guru Beu sar Institut Pertanian Bogor Dwi Andreas Santosa mengatakan bahwa biaya produksi ayam memang tak terlepas dari kenaikan biaya bahan baku yang bisa saja sedikit lebih mahal saat ini lantaran beberapa campurannya berasal dari impor.

Dengan begitu, kenaikan biaya produksi ayam menjadi tidak bisa dihindari. “Fluktuasi harga di tingkat internasional sangat berpengaruh,” kata Dwi.

Dia pun menyarankan pemerintah agar segera melakukan intervensi harga, namun dengan pendekatan serta cara yang hati-hati. Pasalnya, pedagang yang menjual harga lebih rendah di tingkat konsumen justru dapat membebani ongkos produksi peternak itu sendiri.

sumber: https://katadata.co.id/berita/2018/05/18/kemedag-minta-pengusaha-gelontorkan-pasokan-ayam-dan-telur-ke-pasar